Ancaman El Nino Dipecahkan dengan Kemampuan Budidaya yang Peka terhadap Dinamika Iklim

Uwrite.id - Jakarta - Ancaman El Nino di depan mata, menghantui banyak sektor kehidupan, termasuk soal pertanian. Para petani harus mencari strategi supaya tetap produktif.
Kabar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) soal segera datangnya kemarau membuat petani mulai bersiap. Sejumlah wilayah diprediksi BMKG akan mulai musim kering pada April 2026. Tak hanya itu, sebagian besar daerah diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang dari biasanya.
Situasi ini bukan sekadar soal cuaca yang berubah, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup para petani. Ketika hujan tak kunjung turun, debit irigasi berkurang. Urutan selanjutnya adalah potensi banyaknya hama dan jumlah pupuk yang harus bertambah. BIsa dirangkum, biaya produksi meningkat, dan risiko gagal panen pun membayangi.
Di banyak daerah, petani mulai mengatur siasat, Ada yang menata ulang pola tanam, menghemat penggunaan air, hingga mencari cara alternatif agar lahan tetap produktif di tengah ancaman kemarau panjang. Namun di balik berbagai upaya tersebut, rasa cemas tetap menyelimuti.
Keluh kesah pun tak terhindarkan. Hal ini dirasakan langsung oleh Alfin Putra Armanda (20), Founder Anak Tani asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Ia memprediksi kondisi tahun ini akan terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya.
"Kalau melihat situasi sekarang, kemarau tahun ini terasa lebih berat. BBM untuk petani yang menggunakan mesin diesel di sumur lahan juga ikut sulit didapat dan dibatasi di daerah saya," ujar Alfin.
Tak hanya itu, biaya pengairan yang meningkat turut menambah beban. Saat ini, Alfin mengelola komoditas jagung, pisang, dan terong yang semuanya membutuhkan pasokan air cukup.
Di sisi lain, ia juga menyoroti masih dominannya praktik pertanian tradisional di wilayahnya. Hal ini menjadi kendala saat petani ingin beralih ke metode yang lebih efisien.
"Kalau ingin pakai drip irrigation, kendalanya ada di tenaga kerja yang belum banyak yang ahli. Rata-rata masih terbiasa dengan cara konvensional," ungkapnya.
Padahal, drip irrigation merupakan teknik pengairan dengan meneteskan air langsung ke akar tanaman melalui selang atau pipa khusus, yang terbukti lebih hemat air dan efisien. Namun, keterbatasan tenaga terampil membuat penerapannya belum maksimal di lapangan.
Cara Mereka Bersiasat
Beda daerah, berbeda pula cara petani beradaptasi. Di Klaten, Jawa Tengah, petani muda sekaligus pendiri Sanggar Rojolele, Eksan Hartanto, memilih pendekatan kolektif dalam mengelola air.
Ia berkaca pada pengalaman tahun 2019 yang menjadi masa sulit bagi petani setempat. Sebagai daerah penghasil beras rojolele, salah satu komoditas unggulan, produksi harus tetap berjalan meski air terbatas.
"Beras rojolele ini kan unggulan, jadi mau tidak mau produksi harus tetap jalan," ujar Eksan, Selasa (31/3).
Untuk itu, petani di sana menerapkan sistem pembagian air irigasi dan jadwal tanam berbasis blok hamparan. Pola tanam tidak dilakukan serempak, melainkan bergiliran agar kebutuhan air bisa diatur.
"Biasanya air dibagi sesuai urutan blok. Jadi tidak bersamaan, tapi digilir. Penanaman dimulai dari sawah bagian hulu, lalu turun ke bawah," jelasnya.
Setiap blok hamparan dibatasi maksimal sekitar 10 hektare. Dengan sistem ini, distribusi air menjadi lebih merata dan efisien, sehingga kebutuhan tanaman tetap terpenuhi meski dalam kondisi kemarau.
Sementara itu di Blora Selatan, Jawa Tengah, petani muda Nanang Adi Purnomo menyebut kondisi kemarau masih relatif terkendali. Hal ini karena sumber pengairan di wilayahnya masih cukup terjaga, berbeda dengan Blora bagian utara dan barat yang lebih rentan kekeringan.
Nanang yang fokus pada komoditas melon, semangka, padi, dan bawang merah memilih strategi adaptasi melalui perubahan jenis tanaman. "Kalau kemarau panjang dan air sulit, padi dan bawang merah kurang optimal. Jadi biasanya kami alihkan ke melon atau semangka yang lebih tahan," ujar Nanang, Rabu (01/04).
Menurutnya, fleksibilitas dalam memilih komoditas menjadi kunci agar tetap produktif. Sampai hari ini, kata dia, kondisi kemarau belum seberat beberapa tahun sebelumnya, karena masih ada hujan susulan yang membantu menjaga ketersediaan air.
Untuk pengairan, Nanang masih mengandalkan sumur sibel, sumur bor, dan sumur galian. Di antara ketiganya, sumur sibel dianggap paling efektif karena mampu menjangkau area yang luas, meski biaya perawatannya cukup tinggi.
Sumur sibel sendiri merupakan jenis sumur bor dalam yang dibuat menggunakan mesin pengebor untuk mencapai lapisan air tanah yang lebih stabil. Berbeda dengan sumur galian yang relatif dangkal, sumur sibel biasanya dilengkapi pipa dan pompa, sehingga mampu mengalirkan air dalam jumlah besar ke area pertanian.
Kelebihannya, debit air cenderung lebih terjaga bahkan saat musim kemarau, sehingga sangat membantu petani dalam menjaga keberlangsungan irigasi. "Kalau ada sumur sibel, biasanya bisa bantu banyak petani. Sistemnya sewa per jam, sekitar Rp25 ribu. Jadi petani tinggal bergiliran pakai," jelasnya.
Berbagai praktik di lapangan ini menunjukkan bahwa di tengah tekanan kemarau panjang, petani tidak tinggal diam. Mereka terus beradaptasi dengan cara masing-masing demi menjaga keberlangsungan produksi dan harapan panen.
Pendekatan Ilmiah
Di tengah ancaman kemarau panjang, pertanyaan besarnya adalah bagaimana petani bisa tetap menjaga ketersediaan air di lahan mereka?
Pengamat konservasi tanah dari UGM, Ngadisih, menekankan bahwa kunci utamanya justru ada pada cara petani memperlakukan tanah dan air secara bersamaan.
"Tanah itu sebenarnya tandon alami air hujan yang tidak tergantikan. Kalau tanahnya mampu menyimpan air dengan baik, maka lahan akan lebih tahan terhadap kekeringan," ujar Ngadisih, Rabu (31/03).
Kemampuan tanah dalam menyimpan air, lanjutnya, sangat menentukan ketahanan lahan terhadap kemarau panjang. Karena itu, upaya menjaga kelembaban tanah tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menjadi bagian dari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Ia menjelaskan, dalam menghadapi kemarau panjang terdapat dua pendekatan utama yang bisa dilakukan, yakni agronomis dan teknis.
Dari sisi agronomis, petani dapat mengatur pola dan jadwal tanam, memilih jenis tanaman yang sesuai musim, serta menggunakan mulsa baik plastik maupun tanaman penutup untuk menjaga kelembaban tanah.
Sedangkan dari sisi teknis, berbagai cara sederhana seperti pembuatan rorak (lubang resapan kecil), sumur resapan, hingga embung dapat membantu menampung air hujan sebagai cadangan untuk irigasi. Penggunaan irigasi hemat air, seperti irigasi tetes, juga dinilai efektif dalam kondisi terbatas.
Namun, pemanfaatan air tanah dalam melalui pompa tetap harus dilakukan secara bijak. “Artinya harus seimbang antara air yang diambil dan air yang kita masukkan kembali ke dalam tanah,” sebutnya.
Lebih jauh, Ngadisih menekankan bahwa pengelolaan air dan perbaikan kualitas tanah tidak bisa dipisahkan. “Kalau kualitas tanahnya baik secara fisik, kimia, dan biologi, maka kemampuan menyimpan air juga meningkat. Di situ teknologi pengairan akan bekerja lebih efektif,” tambahnya.
Adaptasi di Tingkat Petani
Sementara itu, dari sisi strategi budidaya dan adaptasi di tingkat tanaman, Pengamat Klimatologi Lingkungan (Pertanian UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, menegaskan bahwa sebenarnya solusi menghadapi kekeringan sudah tersedia sejak lama, salah satunya melalui penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi minim air.
Ia mencontohkan padi gogo, varietas padi yang memang dirancang untuk lahan tadah hujan dan tidak membutuhkan banyak air seperti padi sawah pada umumnya. Namun, tantangan terbesar bukan pada ketersediaan teknologi atau varietas, melainkan pada penerapannya di lapangan.
Menurut Bayu, kebiasaan petani yang sudah turun-temurun menanam varietas tertentu membuat perubahan menjadi tidak mudah. Beralih ke varietas baru membutuhkan waktu, proses adaptasi, serta kepercayaan.
Di sinilah peran penyuluh pertanian menjadi sangat penting. "Komunikasi antara penyuluh dan petani menjadi kunci. Penyuluh punya cara komunikasi yang efektif, dan biasanya petani lebih percaya serta mau mengikuti arahan mereka," jelasnya.
Melalui pendampingan yang intensif, penyuluh dapat membantu petani memahami pentingnya beralih ke varietas yang lebih tahan kekeringan, sekaligus memberikan informasi terkait kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
Selain varietas, Bayu juga menekankan pentingnya dukungan teknologi dan informasi cuaca yang akurat. Sistem early warning atau peringatan dini terkait kondisi ekstrem, baik kemarau panjang maupun hujan berkepanjangan, dinilai sangat krusial.
Informasi ini idealnya bisa menjangkau hingga level desa agar petani dapat mengambil keputusan yang lebih tepat, seperti menentukan waktu tanam atau memilih jenis komoditas.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa komunikasi di tingkat akar rumput tetap menjadi faktor paling menentukan. Tanpa pendampingan yang intensif, banyak petani yang berisiko tidak mendapatkan informasi penting tersebut.
"Petani dan penyuluh menjadi kunci sukses di level bawah dalam menghadapi kemarau panjang," tegasnya. (*)

Tulis Komentar