Alih-alih Hanya Sampai 3 Tahun, Kereta Api Diminta Gratiskan Tiket Anak Hingga 5 Tahun

Uwrite.id - Jakarta - Wacana keringanan tiket kereta api untuk anak kembali mencuat. Alih-alih hanya digratiskan sampai usia 3 tahun seperti aturan saat ini, sejumlah pihak meminta PT KAI memperluasnya hingga anak usia 5 tahun.
Usulan itu muncul karena banyak orang tua merasa terbebani dengan biaya perjalanan saat mudik dan liburan. Harga tiket yang naik, ditambah harus bayar penuh untuk anak balita, dinilai memberatkan.
Saat ini, berdasarkan aturan PT KAI, anak usia di bawah 3 tahun masih digratiskan dengan catatan tidak mendapat kursi. Jika ingin dapat kursi, maka tetap harus membeli tiket 25% dari harga normal.
Sementara untuk anak usia 3 sampai 11 tahun, tiket dikenakan 50% dari harga dewasa dan sudah mendapat tempat duduk. Aturan itu sudah berjalan cukup lama.
Namun banyak orang tua menilai batas 3 tahun terlalu cepat. Usia 3-5 tahun masih tergolong balita yang butuh banyak perhatian dan belum bisa duduk tenang sepanjang perjalanan.
"Anak 4 tahun itu masih suka digendong, masih rewel. Masa iya harus bayar setengah tiket," kata Rina, warga Bekasi yang sering pulang kampung ke Solo naik kereta.
Keluhan serupa juga banyak muncul di media sosial. Netizen membandingkan dengan maskapai penerbangan yang sudah banyak menggratiskan infant sampai 2 tahun dan memberi diskon besar untuk child.
Praktisi transportasi, Djoko Setijowarno, menilai usulan ini masuk akal. Menurutnya, kereta api adalah moda transportasi publik yang seharusnya ramah keluarga.
"Kalau tujuannya mendorong masyarakat beralih ke kereta, maka kebijakan tarif harus berpihak ke keluarga. Gratiskan sampai 5 tahun itu langkah bagus," ujarnya.
Ia menambahkan, subsidi silang bisa dilakukan. KAI bisa menutupi potensi kehilangan pendapatan dari segmen lain, seperti kelas eksekutif atau paket pariwisata.
Dari sisi bisnis, PT KAI memang harus menghitung. Setiap kursi yang digratiskan berarti potensi pendapatan yang hilang. Apalagi saat peak season seperti Lebaran dan Natal.
Namun di sisi lain, kebijakan pro keluarga bisa meningkatkan loyalitas pelanggan. Orang tua yang merasa dimudahkan cenderung akan terus memilih kereta untuk perjalanan selanjutnya.
Koordinator Masyarakat Transportasi Indonesia wilayah Jabodetabek, Rio Octavius, juga mendukung. Ia menyebut banyak negara sudah menerapkan kebijakan lebih murah untuk anak.
"Di Jepang dan Korea, anak di bawah 6 tahun banyak yang gratis untuk transportasi publik. Kita bisa belajar dari situ," katanya.
PT KAI sendiri belum memberikan jawaban resmi terkait usulan ini. Pihak Humas KAI hanya menyebut akan menampung aspirasi masyarakat.
"Kami selalu evaluasi kebijakan tarif. Semua masukan akan kami kaji bersama stakeholder terkait," kata VP Public Relations KAI, Anne Purba.
Anggota Komisi V DPR RI juga ikut bersuara. Mereka mendorong Kementerian BUMN dan KAI duduk bersama membahas kemungkinan revisi aturan.
"Jangan sampai kereta jadi mahal untuk keluarga. Padahal ini transportasi massal. Harusnya makin murah, makin banyak yang naik," kata salah satu anggota Komisi V.
Usulan ini juga terkait dengan program pemerintah untuk menurunkan biaya logistik dan mobilitas masyarakat. Beban keluarga muda dinilai semakin berat karena inflasi dan harga kebutuhan pokok.
Jika benar diterapkan, kebijakan gratis untuk anak hingga 5 tahun akan berdampak besar. Data KAI mencatat jutaan penumpang anak setiap tahun, terutama saat masa libur sekolah.
Bagi sebagian keluarga, penghematan beberapa ratus ribu rupiah untuk tiket anak sangat berarti. Uang itu bisa dipakai untuk kebutuhan lain selama perjalanan.
Meski begitu, KAI diminta menyiapkan skenario agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti kursi penuh tapi banyak anak tanpa tiket.
Yang jelas, publik kini menunggu. Apakah KAI akan tetap bertahan di batas 3 tahun, atau berani mengambil langkah berani dengan menggratiskan sampai 5 tahun. (*)

Tulis Komentar