Akulturasi Budaya di Indonesia: Normaalschool dan Penjajahan

Pendidikan | 07 Jun 2026 | 19:42 WIB
Akulturasi Budaya di Indonesia: Normaalschool dan Penjajahan
Potret Siswa-Siswi Normaalschool di Probolinggo. Sumber: KITLV

Uwrite.id - Akulturasi budaya yang terjadi di Indonesia memiliki jejak cerita yang cukup panjang. Sehingga fenomena ini sebenarnya bukanlah hal baru yang terjadi pada masa modern. Terlebih lagi bangsa kita telah memiliki catatan sejarah penjajahan yang mendalam. Dimana akulturasi budaya pada masa kolonial dapat masuk dengan berbagai cara, salah satunya ialah melalui pendidikan. Hal ini seperti yang tercermin dalam lingkungan Normaalschool yang merupakan sekolah tinggi keguruan buatan kolonial Belanda. Pada dasarnya, Normaalschool dapat dikatakan sebagai sekolah pendidikan guru tingkat paling rendah jika dibandingkan dengan Kweekschool dan Hollands Indlandsche Kweekschool. Hal ini dikarenakan Normaalschool merupakan satu-satunya sekolah pendidikan guru bentukan Belanda yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya. Akan tetapi, bahasa Belanda tetap diajarkan namun tidak semasif bahasa Jawa. Interaksi semacam inilah yang kemudian membentuk identitas calon pendidik dengan wawasan baru di luar budaya lokal.[1]

Tujuan dari pembelajaran Belanda sebagai bekal dasar pengetahuan masyarakat terhadap perkembangan dunia luar. Siswa lulusan Normaalschool ini dipersiapkan agar menjadi calon guru yang mampu memajukan perkembangan bahasa dan kesusasteraan Jawa di samping pemupukan pengetahuan umum. Selepas lulus, mereka akan ditempatkan di sekolah desa atau sekolah Ongko Loro sebagai guru pengajar. Uniknya, untuk memenuhi syarat kelulusan mereka tidak sekedar membutuhkan sertifikat guru. Melainkan juga harus memiliki sertifikat pertanian dengan melalui waktu enam bulan untuk prosesi pelatihan di Pancasan Bogor. Bagi lulusan berprestasi dan memiliki pengalaman yang memadai, tidak jarang ia diangkat menjadi kepala sekolah hingga penilik sekolah yang disebut dengan Opziener dalam bahasa Belanda. 

Selama menempuh pendidikan tinggi di Normaalschool, para siswa juga memperoleh pelatihan mengajar. Biasanya, mereka akan mengajar di Leerschool yang merupakan Sekolah Dasar Pribumi Negeri. Selain itu, seluruh siswa diwajibkan untuk tinggal di asrama selama masa pendidikan. Di dalam asrama mereka juga memperoleh pelajaran penting yang berkaitan dengan kehidupan. Hal ini dipersiapkan agar mereka tidak hanya lulus sebagai guru yang pintar secara materi namun juga dianggap profesional dalam berbagai hal sesuai dengan standar ketentuan yang sedang berlaku. 

Koran De Locomotief terbitan tahun 1927 memberitakan bahwa peminat sekolah tinggi keguruan (Normaalschool) di Probolinggo terhitung cukup banyak. Pada koran tersebut disebutkan setidaknya terdapat 133 kandidat yang mengikuti ujian masuk sekolah keguruan di Probolinggo.[2] Koresponden Probolinggo melaporkan mengenai proses ujian masuk yang dilakukan dengan dua cara yakni ujian tulis dan juga ujian lisan.[3] Langkah ini menunjukkan bahwa proses seleksi siswa yang akan bergabung di sekolah tinggi keguruan terbilang cukup ketat. 

Para siswa sekolah tinggi keguruan Katolik di Probolinggo, juga terlibat aktif dalam beberapa kegiatan keagamaan. Contohnya seperti saat perayaan misa di Hindia Belanda.[4] Beberapa siswa sekolah tinggi keguruan dari Probolinggo menampilkan pertunjukkan wayang wong (wayang orang) dengan kisah Daud dan Goliat. Alur cerita wayang tersebut disesuaikan dengan peristiwa di dalam Alkitab. Walaupun mereka memakai bahasa Jawa selama penampilan, namun penonton cukup puas karena mampu menyelami suasana Jawa dari penampilan mereka. Berbagai asosiasi Katolik Jawa di Surabaya kompak melontarkan pujian terhadap kesuksesan penampilan drama dari para siswa sekolah guru di Probolinggo tersebut.[5] 

Wayang wong (wayang orang) sepertinya sudah menjadi pertunjukan andalan Normaalschool di Probolinggo saat itu.[6] Sebab, wayang wong tidak hanya ditampilkan saat acara keagamaan saja melainkan juga pada acara kelulusan sekolah. Biasanya acara ini diadakan sampai beberapa hari. Contohnya seperti yang tertulis dalam berita tahun 1935, bahwasannya pada tanggal 24 Mei merupakan acara penyerahan ijazah kelulusan yang dihadiri oleh para pejabat dan tokoh penting. Sedangkan pada tanggal 25 dan 26 Mei diisi acara perayaan kelulusan oleh para siswa Normaalschool. Setiap acara perayaan dikemas sangat menarik dan tidak ketinggalan menampilkan wayang wong. Pada saat itu kebetulan cerita yang dibawakan berkaitkan dengan “Pemberontakan Lucifer”.[7] Seluruh penonton sangat bersuka cita dengan perayaan kelulusan tersebut. Guru di Normaalschool memiliki tugas lain selain mengajar. Mereka menjadikan seni sebagai media penting dalam menyebarkan nilai agama. Hal tersebut membuka peluang adanya akulturasi budaya melalui teater lokal yang membawakan cerita dari alkitab (Lakon Alkitab). 

Pendidikan bentukan kolonial ini ternyata tidak berjalan dengan stabil. Pada tahun 1935 muncul intruksi dari pemerintah untuk melakukan efisiensi sehingga sekolah harus ditutup. Penutupan ini dilakukan secara bertahap. Menjelang penutupan, Normaalschool menonaktifkan penerimaan siswa baru. Sekolah hanya aktif untuk pelajar tingkat akhir dan akan segera tutup setelah mereka wisuda.[8] Hal ini menunjukkan bahwa Normaalschool ternyata tidak menjadi bagian dari prioritas pemerintah. Sekolah ini tidak berdiri secara stagnan, faktor kebijakan dan kondisi keuangan pemerintah kolonial dapat menonaktifkan sekolah ini kapan saja. Penutupan Normaalschool ini tidak hanya berdampak pada siswanya saja. Akan tetapi, guru juga menjadi kehilangan tempat mengajar dan harus mutasi ke daerah lain. Hal ini seperti yang dialami oleh salah seorang guru Normaalschool di Probolinggo yang bernama Bapak Soeria Bonoroesid. Di mana setelah meninggalkan Probolinggo secara permanen, beliau menetap di Jogja.[9] Hal inilah yang kemudian semakin menandai adanya kemunduran eksistensi Normaaschool di Probolinggo. 

 


 

[1] Prodi Pendidikan Sejarah and Universitas Pendidikan Indonesia, “Ragam Pendidikan Guru Masa Pemerintahan Kolonial” 12, no. 2 (2023): 257–76.

[2] Kost P E R Kwartaal and O P D E Binnen Pagina S, “De Locomotief,” no. 54 (1927).

[3] Eerste Blad and Willy Martens, “Indische Courant.,” no. 345 (1941): 96–99.

[4] De Missie-Feesten. Van onzen Malangschen redactur. De Indische Courant, Dinsdag 4 September 1934..

[5] R.K Marine Tehuis Wajangvoorstelling. De Indische Courant, Mandaag 4 Maart 1935.

[6] De Wajang-orang vertooning. De Korier, Woensdag 6 Maart 1935.

[7] Blad and Martens, “Indische Courant.”

[8] De Indische courant, “De Indische Courant,” Delpher, no. November 1922 (1940): 5, https://resolver.kb.nl/resolve?urn=ddd:011176780:mpeg21:p005.

[9] De Indische courant.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar