Abu Vulkanik Diusulkan Jadi Bahan Campuran Air Pemadam Karhutla, Pakar: Perlu Sistem Penampungan yang Tepat

Lingkungan Hidup | 07 Sep 2026 | 13:33 WIB
Abu Vulkanik Diusulkan Jadi Bahan Campuran Air Pemadam Karhutla, Pakar: Perlu Sistem Penampungan yang Tepat
Abu vulkanik akibat letusan gunung berapi, ada kemungkinan dimanfaatkan sebagai sarana material pencampur air pemadaman karhutla. (Fire.Herald)

Uwrite.id - Bandung - Erupsi Gunung Anak Krakatau beberapa hari terakhir menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah pesisir Banten. Selain mengganggu aktivitas warga dan penerbangan, abu ini kini mulai dilirik sebagai bahan alternatif pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Para ahli menyebut ada potensi besar di balik dampak negatif erupsi tersebut.

Dr. Raden Bagus, pakar kebencanaan dari ITB, menjelaskan abu vulkanik mengandung silika dan mineral yang secara teori bisa membantu memadamkan api. “Abu vulkanik itu kaya silika dan mineral. Secara teori bisa dicampur ke dalam air untuk meningkatkan efektivitas pemadaman karhutla,” ujarnya. Menurutnya, ini bisa jadi opsi saat musim kemarau dan sumber air terbatas.

Ia menambahkan pemanfaatan ini termasuk solusi taktis dalam kondisi darurat. Beberapa negara dengan gunung aktif sudah pernah mengujinya. “Ini solusi taktis. Saat karhutla terjadi di musim kemarau dan sumber air terbatas, kita bisa pakai abu yang melimpah ini,” jelasnya. Namun ia menekankan konsep di Indonesia masih perlu diuji lebih lanjut.

Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG juga tengah mengkaji hal yang sama. Mereka melihat abu yang jatuh di area terbuka bisa dikumpulkan untuk diolah. Tapi kualitas abu harus diuji agar tidak merusak peralatan pemadam. Kandungan asam dan partikel kasar bisa jadi penghambat.

Salah satu kendala teknis adalah penyaringan. Abu tidak bisa langsung dicampur ke air. “Kita perlu sistem penyaringan sederhana sebelum abu dicampur ke air,” kata Bagus. Jika tidak disaring, nozzle pompa bisa tersumbat dan menghambat operasi pemadaman di lapangan.

Tantangan utama justru ada pada penampungan. Sebaran abu sangat tergantung arah angin dan bisa jatuh di laut, hutan, hingga atap rumah. Tanpa sistem pengumpulan, abu yang melimpah itu akan terbuang. “Pemerintah daerah dan BPBD harus pikirkan cara penampungannya. Misalnya dengan terpal besar di lapangan terbuka saat erupsi terjadi,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Serang mencatat sebaran abu cukup tebal di Kecamatan Anyer saat erupsi 5 September 2026. Data itu dinilai bisa jadi dasar uji coba. Seorang pejabat BPBD mengatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan akademisi. “Kami siap berkoordinasi dengan akademisi untuk uji coba skala kecil,” ujarnya.

Secara teknis, pencampuran abu dan air juga butuh takaran. Terlalu banyak abu akan membuat air berlumpur. Terlalu sedikit tidak memberi efek. Para peneliti memperkirakan rasio 1:10 bisa jadi titik awal. “Ini masih butuh riset laboratorium. Tidak bisa langsung diterapkan,” kata Bagus.

Aspek keselamatan petugas juga disorot. Partikel abu yang halus berbahaya jika terhirup. Petugas wajib menggunakan APD lengkap saat mengumpulkan dan mengolah abu. “Jangan sampai niatnya membantu pemadaman, tapi petugasnya sendiri sakit karena paparan abu,” tegasnya.

Masyarakat sekitar gunung juga bisa dilibatkan. Saat erupsi, warga bisa mengumpulkan abu di halaman atau jalan lalu disetorkan ke posko BPBD. Model ini bisa mengurangi biaya pembersihan sekaligus memberi manfaat. Skema gotong royong ini dinilai realistis untuk diterapkan.

Para ahli mengingatkan pemanfaatan abu bukan solusi utama karhutla. Pencegahan seperti patroli, sekat bakar, dan edukasi tetap jadi prioritas. “Abu ini pelengkap. Jangan sampai kita lengah karena merasa punya ‘senjata baru’,” ujar Bagus.

Ke depan dibutuhkan sinergi antara ahli vulkanologi, kehutanan, dan BPBD. Jika riset berhasil, Indonesia bisa punya metode baru yang mengubah bencana jadi sumber daya. “Ini soal mengubah masalah jadi solusi. Tapi kuncinya ada di persiapan dan cara penampungannya,” tutup Bagus. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar