ABI: Putus Rantai Impor, Pengolahan Alumina di Dalam Negeri Jadi Kunci Kemandirian Aluminium Nasional

Uwrite.id - Jakarta – Indonesia memiliki cadangan bauksit terbesar kelima di dunia dengan potensi mencapai 3,2 miliar ton. Namun ironisnya, kebutuhan aluminium nasional hingga 70% masih dipenuhi dari impor. Kesenjangan inilah yang membuat rantai pasok dalam negeri menjadi rapuh dan mahal.
Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI) Ronald Sulistyanto menilai persoalan utamanya bukan pada bahan baku. Menurutnya, Indonesia kekurangan kapasitas pengolahan lanjutan. "Apalagi untuk aluminium, kebutuhan dalam negeri kita selama ini sebagian besar masih ditopang oleh impor karena alumina yang diproduksi belum diolah lebih lanjut. Jika kita mengolahnya sampai tuntas menjadi aluminium, nilai ekonomis yang kita dapatkan akan sangat besar," ujarnya, Kamis (23/07).
Data BPS mencatat, sepanjang 2025 Indonesia mengimpor aluminium dan barang jadi aluminium senilai 2,8 miliar USD. Angka fantastis yang seharusnya bisa diputar di dalam negeri. Sebagian besar impor berasal dari China, Malaysia, dan Australia dalam bentuk ingot, lembaran, dan profil aluminium.
Ronald menegaskan pengolahan alumina menjadi aluminium di dalam negeri adalah kunci memutus ketergantungan. Saat ini Indonesia baru memiliki 2 smelter aluminium besar, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) di Kuala Tanjung dan PT Cita Mineral Investindo di Kalimantan Barat. Kapasitas terbatas ini belum mampu memenuhi permintaan industri otomotif, konstruksi, dan elektronik.
Dampak ekonomi dari hilirisasi tuntas juga sangat signifikan. ABI memproyeksikan nilai tambah bauksit bisa naik 10 hingga 15 kali lipat setelah menjadi aluminium. "Jika bauksit dijual mentah, harganya sangat rendah. Namun, setelah diolah secara tuntas, nilai tambahnya bisa melonjak 10 hingga 15 kali lipat, tergantung pada kualitas dan harga pasar," kata Ronald.
Perbandingan harga global memperkuat argumen itu. Harga bauksit mentah di pasar internasional berada di kisaran 50-70 USD per ton. Sementara harga aluminium ingot bisa mencapai 2.400-2.600 USD per ton pada Juli 2026, menurut data London Metal Exchange. Selisih harga sejauh ini yang selama ini dinikmati negara pengimpor.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM menargetkan pembangunan 5 smelter alumina dan aluminium baru hingga 2030. Salah satunya Proyek Strategis Nasional Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah dan Bintan dengan total investasi lebih dari 3 miliar USD. Proyek ini diharapkan menjadi tulang punggung kemandirian alumina nasional.
Selain menekan impor, hilirisasi juga membuka lapangan kerja. Studi Kementerian Perindustrian 2024 menyebut setiap 1 juta ton kapasitas smelter aluminium dapat menyerap 15.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Efek berantai ini akan menggerakkan ekonomi daerah penghasil bauksit seperti Kalimantan Barat dan Riau.
Tantangan tetap ada, terutama soal energi dan teknologi. Proses peleburan aluminium sangat boros listrik, membutuhkan sekitar 14.000 kWh per ton. Karena itu ABI mendorong integrasi smelter dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air dan energi hijau lainnya. Tanpa energi murah dan berkelanjutan, daya saing kita akan kalah dari negara lain.
Secara strategik, pengolahan alumina di dalam negeri bukan sekadar agenda industri. Ini merupakan keharusan platform akan kedaulatan bangsa. Dengan menghentikan ekspor bauksit mentah sejak Juni 2023 dan memaksa investasi hilir, Indonesia sedang membangun fondasi untuk menjadi produsen aluminium mandiri. Jika konsisten, satu dekade ke depan Indonesia akan mampu menghentikan impor dan mulai mengekspor produk jadi bernilai tinggi. (*)

Tulis Komentar