5 Peliput Anak Krakatau Loss Contact, Paranormal Lampung Yakini Kelimanya Masuk Kerajaan Gaib Dasar Selat Sunda

Uwrite.id - Bakauheni - Selat Sunda kembali menelan kabar duka. Selasa (08/09) sore, lima jurnalis nasional dan internasional dilaporkan hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka berangkat dengan semangat jurnalistik, membawa kamera dan catatan untuk mengabadikan amukan gunung yang tak pernah benar-benar tidur. Namun hingga Rabu (09/09) malam, belum ada kabar pasti tentang keberadaan mereka. Operasi pencarian pun memasuki hari kedua dengan cakupan yang semakin luas.
Kelima jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal, jurnalis freelance. Mereka berangkat bersama tiga awak kapal cepat Arupadhatu 1. Total ada delapan orang di atas kapal yang kini menjadi fokus pencarian tim SAR gabungan. Nama-nama itu kini menghiasi posko siaga media dan doa keluarga.
Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, Banten, Senin (07/09) sekitar pukul 14.00 WIB. Tujuan mereka jelas: mendekat ke Gunung Anak Krakatau untuk mendokumentasikan erupsi. Cuaca saat itu terpantau tidak bersahabat, namun demi berita, mereka tetap berlayar. Keputusan itu kini menjadi pertanyaan besar bagi banyak pihak.
Sekitar pukul 14.42 WIB, salah satu jurnalis sempat mengirimkan titik koordinat kepada rekan di Lampung. Itu menjadi sinyal terakhir yang terekam. Dua puluh dua menit kemudian, tepatnya pukul 15.04 WIB, komunikasi terputus total. Sejak saat itu, radio, telepon satelit, hingga pelacak kapal tidak memberikan respons apapun.
Kepala Siaga SAR Banten, Wahyu, membenarkan bahwa timnya masih melakukan pencarian intensif. "Sampai sekarang tim SAR masih mencari kelima jurnalis yang lost contact," ujarnya Selasa (08/09). Penyisiran dilakukan di titik-titik yang diduga menjadi lokasi terakhir, mulai dari perairan hingga daratan Pulau Sebesi dan sekitar Gunung Anak Krakatau. Setiap jengkal laut disisir dengan harapan kecil.
Pada hari pertama, pencarian difokuskan di sekitar Pulau Krakatau dan Pulau Panjang. Namun nihil hasil. Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, kemudian memutuskan memperluas operasi ke Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Keputusan itu diambil setelah muncul informasi bahwa kapal mungkin terdorong arus ke arah timur Selat Sunda. Pulau Sebesi kini menjadi titik fokus baru.
Untuk memperkuat operasi, Basarnas mengerahkan KN SAR Tetuka. Armada ini didampingi RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, KAL Anyer dari Lanal Banten, serta KP Sanjaya 7017 dari Polairud. Kapal berukuran besar sengaja diturunkan karena kondisi perairan Selat Sunda dikenal ekstrem. Ombak dan arus di sana bisa berubah dalam hitungan menit.
Selain unsur resmi, pencarian juga melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga jaringan nelayan. Basarnas menyebarkan karakteristik kapal Arupadhatu 1 dan foto delapan korban kepada nelayan tradisional. Mereka diminta melapor jika melihat puing, sekoci, atau tanda-tanda lain. Laut Selat Sunda terlalu luas untuk hanya diandalkan oleh kapal SAR.
Namun tantangan di lapangan tidak ringan. Gelombang setinggi 1–2 meter, angin kencang, dan jarak pandang hanya sekitar satu mil laut menghambat gerak tim. Ditambah lagi, abu vulkanik dari Anak Krakatau membuat pengamatan visual hampir mustahil. Petugas harus bergantian masuk karena khawatir dampak abu pada pernapasan.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berstatus Level III Siaga. Erupsi susulan masih terjadi dan berpotensi memicu gelombang tinggi. Kondisi ini membuat tim SAR harus berhati-hati agar tidak menambah korban. Setiap penyisiran dihitung risikonya dengan cermat.
Di tengah operasi, beredar kabar bahwa kelima jurnalis sempat menginap di Pulau Sebesi. Informasi itu belum bisa diverifikasi. "Tim SAR masih melakukan pendalaman dan verifikasi terhadap informasi yang beredar," kata Wahyu. Jika benar, maka ada kemungkinan mereka selamat dan terdampar. Tapi hingga kini belum ada bukti.
ANTARA sebagai kantor tempat Bagus bekerja langsung mendirikan Posko Siaga Media. Posko ini menjadi pusat koordinasi antar media yang jurnalisnya ikut dalam rombongan. Direktur Utama ANTARA, Benny Siga Butarbutar, mendorong intensitas pencarian ditingkatkan. "Kami mendorong agar petugas meningkatkan intensitas pencarian," tegasnya.
Keluarga korban kini berkumpul di posko. Tangis dan doa mengiringi setiap update dari tim SAR. Mereka berharap keajaiban datang, seperti yang sering terjadi di laut. Namun jam demi jam berlalu tanpa kabar, membuat harapan itu semakin tipis.
Pengamatan warga pesisir Pulau Sebesi menambah tanda tanya. Seorang nelayan bernama Pak Dirun mengaku melihat cahaya aneh di arah Krakatau Senin malam. "Cahayanya biru, diam di atas laut, lalu hilang," katanya. Warga lain juga melaporkan suara dentuman keras dari tengah laut sekitar pukul 15.00 WIB, berbarengan dengan waktu lost contact.
Ibu-ibu di dermaga Sebesi juga cerita melihat burung laut berterbangan tidak beraturan sore itu. Menurut mereka, itu pertanda laut sedang "marah". Warga sudah terbiasa dengan tanda-tanda alam sebelum kejadian besar. Kali ini firasat mereka terasa lebih kuat dari biasanya.
Seorang sesepuh Sebesi, Mbah Karto, mengatakan laut di sekitar Anak Krakatau memang punya "penunggu". Ia bercerita bahwa sejak letusan besar 1883, banyak kapal hilang tanpa jejak di area itu. "Bukan karena ombak, tapi karena dibawa," ucapnya lirih. Pernyataan itu memunculkan spekulasi lain di luar logika SAR.
Di sinilah masuk cerita mitologi Lampung kuno. Masyarakat Lampung, khususnya di pesisir Kalianda dan Bakauheni, mengenal legenda "Kerajaan Gaib Dasar Selat Sunda". Kerajaan ini diyakini berada di dasar laut antara Krakatau dan Sebesi. Penghuninya adalah makhluk halus penjaga selat.
Menurut cerita turun-temurun, kerajaan itu dipimpin oleh Ratu Laut Selatan versi Lampung yang disebut Putri Kemala. Ia bertugas menjaga keseimbangan antara gunung api dan laut. Setiap kali Anak Krakatau erupsi besar, Putri Kemala akan "memanggil" manusia yang dianggap mengganggu.
Paranormal Lampung, Ki Raden Jayeng, meyakini kelima jurnalis itu tidak hilang karena tenggelam biasa. "Energi mereka ketarik ke alam lain. Itu kerajaan gaib dasar Selat Sunda," ujarnya saat dimintai pendapat. Ia menyebut titik 14.42 WIB adalah gerbang pembuka ketika koordinat dikirim.
Ki Raden menjelaskan, jurnalis yang datang dengan niat "membongkar" rahasia gunung sering dianggap melanggar. "Apalagi bawa kamera, lampu, dan teriak-teriak. Itu sama saja menantang," katanya. Ia menyarankan keluarga melakukan sedekah laut dan doa bersama di pesisir.
Kepercayaan ini bukan hal baru di Lampung. Nenek moyang Lampung punya pantangan: tidak boleh berteriak keras di atas laut saat Krakatau aktif. Juga tidak boleh mengambil batu atau pasir dari sekitar pulau. Pelanggaran akan berakibat "ditarik" ke dasar.
Cerita tentang kerajaan gaib juga muncul dalam naskah tua Lampung berjudul "Kisah Ranau dan Krakatau". Dalam naskah itu diceritakan bahwa letusan 1883 adalah peringatan karena manusia serakah. Setelah itu, kerajaan di dasar laut menutup diri dan hanya muncul saat ada "tumbal".
Warga Sebesi mengaku sering mendengar gamelan dari bawah laut pada malam Jumat Kliwon. Suaranya samar, seperti dari kejauhan. Mereka percaya itu latihan para penghuni kerajaan. Tahun ini, beberapa warga juga mimpi melihat kapal putih masuk ke pusaran.
Kembali ke fakta, tim SAR tidak menggubris aspek mistis. Mereka fokus pada data arus, angin, dan kemungkinan kapal terdampar. Tapi di lapangan, banyak petugas yang juga orang pesisir. Mereka diam-diam menaruh sesajen kecil di haluan kapal sebelum berangkat.
Tiga awak kapal yang ikut hilang juga memiliki keluarga. Warta, 55, kapten kapal, sudah 30 tahun melaut di Selat Sunda. Surakman, 60, ABK, dikenal hafal seluk-beluk arus. Heriyanto, 49, pemandu, sering mengantar wisatawan ke Krakatau. Pengalaman mereka membuat dugaan "salah navigasi" jadi kecil.
Data BMKG menunjukkan pada 07/09 sore, tekanan udara di sekitar Krakatau turun drastis. Ini bisa memicu angin kencang lokal dan gelombang tidak beraturan. Kombinasi erupsi dan cuaca buruk memang sangat berbahaya bagi kapal kecil seperti speed boat.
Namun tidak ada sinyal mayday, tidak ada puing, tidak ada sekoci. Jika kapal karam karena gelombang, biasanya ada sisa yang mengapung. Keheningan total inilah yang membuat banyak orang, termasuk sebagian anggota SAR, mulai berpikir ke arah lain.
Di Posko ANTARA, rekan-rekan Bagus menyalakan lilin dan memutar rekaman suara terakhirnya. Dalam rekaman itu terdengar suara ombak dan Bagus berkata, "Pemandangannya luar biasa, tapi hawanya berat." Kalimat itu kini diputar berulang kali.
Ari Basuki dari Merdeka dikenal sebagai jurnalis lapangan yang berani. Ia pernah meliput konflik dan bencana. Yudhis dari iNews baru setahun di lapangan. Daus dari Anadolu adalah satu-satunya warga asing. Donal, freelancer, dikenal suka menulis tentang budaya pesisir. Mereka berlima punya semangat sama: menyajikan kebenaran.
Pencarian hari kedua difokuskan di perairan dangkal sekitar Sebesi. Tim penyelam juga diturunkan, meski visibilitas di bawah laut buruk karena abu. Sonar digunakan untuk mendeteksi benda besar di dasar laut. Hasilnya masih nihil.
Warga Lampung Selatan mengadakan pengajian akbar di masjid tepi pantai. Mereka berdoa agar delapan orang itu ditemukan selamat. Imam masjid berpesan agar tidak menyalahkan siapapun. "Ini ujian dan kita serahkan pada Allah," katanya.
Sementara itu, media sosial dipenuhi doa dan spekulasi. Ada yang mengaitkan dengan sejarah tenggelamnya kapal pada 1883. Ada pula yang mengunggah video lama letusan Krakatau. Tapi keluarga meminta agar tidak menyebar hoaks. Mereka hanya butuh informasi valid.
Ki Raden Jayeng kembali menegaskan versinya. "Kalau mau cari, cari di dua alam. Alam nyata dan alam gaib. Kirim doa, bukan cuma sonar." Ia bahkan menawarkan diri untuk "meditasi" di titik koordinat terakhir. Tawaran itu ditolak halus oleh pihak SAR.
Namun pengaruh mitologi begitu kuat di masyarakat pesisir. Bagi mereka, logika dan kepercayaan berjalan beriringan. Laut memberi rezeki, tapi juga bisa mengambil. Dan Anak Krakatau adalah pintu antara dua dunia itu.
Sejarawan lokal, Dr. Sinta dari Universitas Lampung, mengatakan mitologi kerajaan gaib muncul karena trauma kolektif letusan 1883. Saat itu 36 ribu orang meninggal dan banyak yang hilang tanpa jejak. "Manusia butuh narasi untuk menjelaskan yang tidak bisa dijelaskan," ujarnya.
Narasi itu hidup sampai sekarang. Dan ketika ada kejadian seperti ini, narasi itu kembali muncul. Bukan untuk menutupi fakta, tapi untuk memberi ruang bagi harapan dan penerimaan.
Hingga berita ini ditulis Rabu malam, operasi masih berlangsung. KN SAR Tetuka menyisir hingga 10 mil dari titik terakhir. Helikopter patroli juga dikerahkan saat cuaca memungkinkan. Semua berharap ada titik terang.
Keluarga Bagus Khoirunnas belum mau memberikan pernyataan panjang. Mereka hanya titip pesan: "Tolong cari anak kami. Kami percaya dia masih hidup." Pesan singkat itu ditempel di Posko ANTARA bersama foto Bagus dengan kamera di tangan.
Gunung Anak Krakatau masih sesekali memuntahkan abu. Awan panas terlihat dari kejauhan. Para petugas menatap ke arah sana dengan campuran takut dan tekad. Mereka tahu, alam tidak bisa dilawan. Tapi kemanusiaan harus tetap diusahakan.
Apakah kelima jurnalis itu benar-benar masuk ke "Kerajaan Gaib Dasar Selat Sunda" seperti yang diyakini paranormal Lampung? Tidak ada yang bisa menjawab sekarang. Sains mencari di radar dan sonar. Warga mencari di doa dan firasat. Keduanya sama-sama menunggu.
Yang pasti, delapan orang di kapal Arupadhatu 1 belum ditemukan. Harapan terakhir kini ada di tangan tim SAR, laut, dan mungkin juga pada restu dari "penguasa" Selat Sunda yang selama ini hanya hidup dalam cerita. Semoga mereka segera pulang. (*)

Tulis Komentar